Sulitnya Bisa Souvenir Khas Kotabaru

Home / Bisnis / Sulitnya Bisa Souvenir Khas Kotabaru

souvenir unik

Para pelancong atau penikmat estetika pemandangan alam “Bumi Bamega” Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan mengaku kesusahan menerima barang cinderamata sebagai oleh-oleh atau souvenir unik khas tempat setempat. Sejumlah pelancong dan warga pendatang di Kotabaru, mengaku dengan terkesan estetika Kotabaru yang diketahui secara nasional lewat nyanyian “Paris Barantai” ciptaan H.Anang Ardiansyah.

Lirik syairnya “Kotabaru gunungnya bamega, bamega ombak panampuh disala karang, ombang manampuh di sala karang”. Berdasarkan Abubakar, seorang pendatang asal Lamongan, Jawa Timur, jika saja ada daerah penjualan menyediakan souvenir khas tempat karenanya kepulangan dan kesan meninggalkan Kotabaru kian bertambah. “Aku tak mau melupakan kesan selama berada di Kotabaru, apalagi jika dapat membawa souvenir untuk rekan dan keluarga di tempat asal,” sebutnya.

Dia mengaku sepekan berada di Kotabaru dengan mengunjungi pelbagai objek wisiata alam dan bahari. Eksistensi souvenir khas akan mewujudkan Kotabaru yang telah diketahui lewat nyanyian “Gunungnya bamega itu” lebih diingat lagi dan menarik ketertarikan pelancong untuk berkunjung. Warga luar tempat yang datang berkunjung ke Kotabaru selama ini cuma membawa pulang berupa makanan khas seperti amplang dan keripik ikan tenggiri, serta ikan asin.

Tapi amplang, keripik ikan tenggiri dan ikan asin yang dikemas sekedarnya bagi warga luar tempat Kotabaru, bukan yakni cirikhas Kotabaru sebab tempat lain di Kalsel juga mempunyai komoditas perikanan dan kelautan hal yang demikian. Malah komoditas yang sama asal luar Kotabaru jauh lebih bagus tampilan dan kemasannya daripada produk amplang, keripik dan ikan asin yang diwujudkan dari perairan Kotabaru dan selat Makssar hal yang demikian.

Anyaman purun yang berupa tikar, topi, ransel, kerajinan tangan warga Desa Pembelacanan, dan langadai, Kecamatan Kelumpang Selatan dan Hilir, serta ukiran kayu daerah mengaji (rehal), yang sempat dihasilkan produk kerajinan tangan penduduk setempat keberadaanya juga mulai tak terang. Sejumlah pengrajin mengaku tak pernah menerima pembinaan dari Dinas dan instansi berkaitan. Sehingga para pengrajin tak memproduksi secara rutin kerajinan hal yang demikian. Kesibukan para pengrajin cuma sebatas mengisi waktu lengang.

 

Baca Juga : Barang Promosi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *